Banten, Rotterdam dan Wahidin Halim

Gubernur Banten Wahidin Halim (memakai topi putih) saat mengecek kesiapan HUT Banten di Kawasan Banten Lama (sumber foto : wahidinhalim.id).

Rotterdam van Java. Mungkin itulah julukan yang tepat disematkan kepada Banten di masa lampau (di masa kejayaan Kesultanan Islam Banten). Hal itu karena Banten di masa lampau memiliki beberapa kemiripan dengan Rotterdam : salah satu pusat perdagangan, salah satu jantung ekonomi kawasan dan bahkan salah satu pusat peradaban.

Predikat pusat perdagangan disandang Banten terutama sejak era Kesultanan Islam Banten. Saat itu, Pelabuhan Banten menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di kawasan Asia Tenggara. Para saudagar dari manca negara, mulai dari Tiongkok, negeri-negeri Arab, Persia, India, Ottoman bahkan negara-negara Eropa berdatangan ke pelabuhan Banten untuk berniaga. Maka tidak heran jika bangsa-bangsa Eropa akhirnya sangat berambisi menguasai wilayah strategis ini (selain karena ambisi terhadap rempah-rempah), terutama Portugal dan Belanda.

Pelabuhan Banten saat itu kurang lebih seperti Pelabuhan Rotterdam di Eropa yang juga begitu sentral di dunia perdagangan wilayah Eropa, hanya saja masing-masing pelabuhan itu memiliki komoditas yang berbeda. Namun baik Rotterdam maupun Banten, keduanya begitu strategis secara geografis untuk menjadi pusat perdagangan dunia. Rotterdam merupakan jalur perdagangan antara Eropa Daratan dan Kerajaan Inggris, serta berhadapan langsung dengan Laut Utara dan Samudera Atlantik, sementara Banten merupakan penghubung antara Pulau Jawa dan Sumatera, serta berada tepat di hadapan Selat Sunda yang merupakan salah satu jalur vital perdagangan internasional via laut.

Kemajuan di bidang perdagangan tentu berdampak positif terhadap kemajuan ekonomi karena hal itu membuat perputaran ekonomi di Banten berkembang pesat. Kekuatan ekonomi itulah yang menjadi salah satu faktor kemajuan Banten di zaman itu. Seperti halnya Rotterdam, Banten saat itu menjadi salah satu jantung ekonomi yang begitu sentral dalam perdagangan dunia, khususnya di wilayah Asia Tenggara.

Dalam hal peradaban, Banten pun sangat diuntungkan oleh posisi strategisnya sebagai pusat perdagangan di kala itu. Berdatangannya para saudagar dari berbagai bangsa secara tidak langsung membangkitkan kembali peradaban Banten. Selain membawa komoditas dagangan, banyak para saudagar dari manca negara itu datang dengan membawa berbagai keterampilan dan ilmu pengetahuan baru yang kemudian diserap oleh masyarakat lokal Banten. Keadaan ini bisa dibandingkan dengan Rotterdam yang juga menjelma menjadi salah satu kota peradaban dunia terutama sejak era Renaissance (era kebangkitan intelektual Eropa yang dipelopori oleh Italia, lalu menyebar ke Prancis, Jerman, kemudian ke negara-negara Eropa lainnya), di mana banyak para saudagar dan intelektual dari berbagai negeri di Eropa yang berdatangan ke kota ini kemudian mentransfer ilmu pengetahuan mereka.

Banten Pasca Runtuhnya Kesultanan Islam

Pasca kejatuhan Kesultanan Islam, Banten kemudian secara perlahan mulai hilang dari percaturan internasional. Wilayah Banten semenjak itu hanyalah salah satu wilayah jajahan Belanda di kawasan nusantara. VOC maupun Pemerintah Kolonial Belanda, menganggap Banten sebagai kawasan strategis perdagangan namun para penjajah tersebut hanya ingin mengeksploitasi kekayaan alam Banten untuk kepentingan mereka tanpa memikirkan kesejahteraan dan kemajuan penduduk lokal Banten, baik dari sisi ekonomi maupun peradaban.

Usai merdeka dari Belanda, Banten yang kemudian menjadi bagian dari NKRI pun masih belum mampu untuk bersinar kembali. Bahkan, Banten yang kemudian diintegrasikan ke dalam Provinsi Jawa Barat terbilang relatif tertinggal dalam berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, kualitas SDM, kualitas pendidikan dan juga kesehatan. Pembangunan saat itu belum merata dan lebih terfokus ke kota-kota besar yang sebagian besar berada di wilayah Provinsi Jawa Barat saat ini, seperti Bandung dan sekitarnya, Bogor dan Bekasi.

Tahun 2000, menandai sebuah perjalanan baru bagi masyarakat Banten. Pada tahun tersebut, Pemerintah RI memutuskan untuk memisahkan wilayah Banten dari Provinsi Jawa Barat. Maka berdirilah Provinsi Banten yang terdiri dari Serang, Cilegon, Tangerang, Lebak dan Pandeglang. Banten sejak saat itu tidak lagi bergantung kepada Bandung, melainkan berhak mengelola kekayaan dan segala potensinya sendiri untuk kemajuan bersama seluruh rakyat Banten.

Namun, harapan itu tidak sepenuhnya tercapai. Di awal-awal pemerintahan Provinsi Banten, masalah-masalah klasik daerah Banten masih belum bisa dihilangkan, mulai dari pembangunan infrastruktur yang relatif masih lemah, pemerintahan yang belum bebas korupsi, sektor pendidikan yang relatif masih tertinggal dibandingkan wilayah lain di pulau Jawa dan juga pelayanan kesehatan yang belum optimal.

Wahidin Halim dan Kebangkitan Banten

Setelah cukup lama berada di dalam situasi yang kurang stabil, Banten akhirnya mulai bangkit kembali di bawah pemimpin baru mereka yang bernama Wahidin Halim, seorang politisi Partai Demokrat yang resmi menjadi Gubernur Banten sejak 2017 lalu. Pria yang sebelumnya sukses membawa Tangerang menjadi salah satu kota percontohan ini, mencoba menerapkan lagi apa yang telah ia lakukan di Tangerang, seperti  perbaikan infrastruktur, peningkatan mutu pendidikan dan pelayanan kesehatan yang lebih optimal.

Wahidin Halim yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan Banten ini menyadari betul, bahwa Banten merupakan sebuah provinsi penuh potensi baik itu alamnya maupun penduduknya. Bahkan, jika kita membaca teorinya Alfred Thayer Mahan, seorang pakar strategi dan geopolitik asal Amerika Serikat, Provinsi Banten ini bisa dikatakan memiliki semua persyaratan untuk menjadi salah satu kekuatan utama di nusantara : lokasi geografis strategis, jumlah populasi yang cukup proporsional dengan luas wilayah, dan konformasi fisiknya (physical conformation) yang baik. Namun ada dua poin lagi yang menurut Mahan juga sangat menentukan, yaitu karakter masyarakat atau penduduknya dan karakter pemerintahan ataupun sistem pemerintahannya. Sehingga, tidak heran jika pembangunan Banten di bawah kepemimpinan Wahidin Halim juga sangat memperhatikan kualitas penduduknya dan kualitas pemerintahannya. Jadi, jika diambil kesimpulan, pembangunan Banten di bawah Wahidin Halim berfokus pada tiga aspek utama : aspek fisik, aspek manusia dan aspek sistemnya.

Aspek fisik mencakup pembangunan infrastruktur baik itu terkait fasilitas-fasilitas umum maupun sarana pariwisata. Fasilitas-fasilitas umum, seperti jalan-jalan provinsi, rumah sakit umum, mesjid dan bangunan-bangunan sekolah terus diperbaiki kualitasnya di bawah kepemimpinan Wahidin Halim. Jika dulu Provinsi Banten terkesan sebagai provinsi yang tertinggal secara infrastruktur, kini Banten mulai menjelma menjadi salah satu provinsi di Indonesia dengan infrastruktur yang bisa dibanggakan. Bahkan Wahidin Halim berhasil menyulap kawasan Banten Lama yang dulu, sejak zaman proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945, terkesan kumuh, kini menjadi sebuah kawasan wisata religi dan budaya yang nyaman, bersih, indah dan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia.

Sementara pada aspek manusia, Wahidin Halim terus berupaya meningkatkan kualitas seluruh warga Banten di antaranya melalui peningkatan mutu pendidikan dan pelayanan kesehatan. Semua pendidikan di jenjang SLTA (jenjang pendidikan negeri yang di bawah wewenang provinsi) telah digratiskan untuk seluruh warga Banten. Selain itu, seluruh pegawai di seluruh instansi pendidikan yang di bawah naungan Pemprov Banten, baik itu yang ASN maupun non ASN, ditingkatkan kesejahteraannya demi terwujudnya kualitas pendidikan yang diharapkan.

Di sektor kesehatan pun nyata pembangunannya. Meski belum bisa menggratiskan secara total seperti yang  pernah Wahidin Halim lakukan di Tangerang sewaktu ia menjabat sebagai walikota (karena kini regulasi administrasi kesehatan diatur oleh pusat seperti sistem BPJS dsb.), namun secara umum kualitas pelayanan kesehatan di Banten meningkat. Bahkan di era pandemi virus corona (COVID-19) seperti sekarang ini, Wahidin Halim berhasil meminimalisir angka korban dengan bergerak cepat dan tepat serta memaksimalkan semua potensi yang dimiliki Provinsi Banten, seperti menjadikan RSUD Provinsi Banten sebagai rumah sakit khusus penanganan wabah corona, menjadikan Pendopo Gubernur sebagai tempat tinggal sementara para tenaga medis penanganan corona dan meningkatkan insentif bagi para tenaga medis tersebut secara signifikan.

Aspek yang terakhir, yaitu sistem, menjadi aspek yang juga terus diperbaiki Wahidin Halim semenjak ia menjabat sebagai Gubernur Banten. Sistem birokrasi yang dahulu begitu rumit, kini menjadi lebih efisien, baik itu di sektor pendidikan, kesehatan maupun sektor-sektor lainnya. Wahidin Halim juga berhasil  mendorong pemerintahannya bekerja lebih bersih, efisien dan profesional. Sehingga, tidak heran jika di bawah pemerintahan Wahidin Halim, Banten berhasil meraih berbagai penghargaan tingkat nasional di antaranya yaitu penghargaan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK RI sebanyak tiga kali secara berturut-turut.

Dengan upaya-upaya serius di tiga aspek tersebut, kini Banten secara perlahan namun pasti, mulai bangkit kembali. Namun untuk mencapai titik puncak kejayaan, tentu saja selain memerlukan sinergi yang terus berkelanjutan di antara seluruh elemen masyarakat, juga diperlukan optimisme serta kesabaran yang tinggi, seperti dikatakan dalam pepatah barat bahwa Rome wasn’t built in a day...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here