Lebaran Di Kuburan

Oleh: Urya Suryana| Pemimpin Redaksi Banten Review

0
24
Ilustrasi Lebaran di Kuburan

BR| PRESFEKTIF. Seseorang mengkritik ku- mengkritisi kehidupan sosial yang di sampaikan kepadaku-terkait “lebaran di kuburan” yang menjadi tradisi di kampungku. Dia lulusan dari kampus ternama di Jakarta.
“Bersilaturahmi itu dengan orang hidup, bukan dengan orang mati” tegasnya.
Aku hanya mengangguk, mencoba menelusuri jalan fikirannya. Dia menambahkan tentang hubungan yang terputus dengan orang mati kecuali tiga hal ” ya kalo anak soleh cukup di rumah saja mendoakan“. Tambahnya.
Mungkin ada benarnya dalam fikirku. Tak sadar aku melamun malah.
Jadi lebaran nanti kamu akan lakukan hal yang sama?”.
Sedikit kaget dengan pertanyaanya, akhirnya aku hanya bisa kembali mengangguk.
Kenapa kamu tidak memulai jadi agen perubahan. Merubah pola fikir masyarakat”.
Aku tertawa geli dengan kata-kata itu tanpa tau maknanya.
Kapan kamu terkahir ke kuburan ibumu?” Giliran aku yang bertanya.
Sebelum puasa ini aku ziarah“.
Aku sedikit menarik napas sambil memandang gelas kopi yang mulai isi setengah.
” Tak banyak yang ku maknai tentang hari raya ini, yang pasti ini adalah seperti hari pembebasan bagiku-tepatnya hari balas dendam- dan saatnya makan-makan meski aku hidup dalam keluarga yang sederhana dan tak banyak yang bisa ibuku hidangkan.

Mungkin saja memaknai hari raya dengan berpesta adalah hal yang tepat. Perayaan adalah kemenangan dan patut d lakukan selebrasi. Namun di sinilah bedanya justru tradisi ini (tentang berjzarah di kuburan di hari lebaran) memberi nilai tersendiri bahwa pada hakikatnya kita tak perlu larut dalam perayaan dan kegembiraan yang berlebihan tapi sebaliknya senantiasa sadar akan “mudik” kita yang sesungguhnya. Perjalanan yang  panjang menuju Rab pencipta Alam.

Itulah aku bangga dengan tradisi ini, ada banyak makna tersirat salah satunya mengingat kematian lebih dekat.

Aku tahu ada dalil entah hadist atau apa, yang isinya kurang lebih kalau aku tak salah faham, penghujung ramadhan ini kehidupan di alam baqa di kembalikan ke semula seperti sesaat sebelum lebaran. Bagi banyak pendosa maka ini menjadi hari yang penuh tangisan yang pilu, dengan hadirnya keluarga dan mendoakan semoga mereka berolehi ampunan dari Allah SWT.

Apapun itu, aku lebih sependapat tatanan sosial yang berbasis tradisi jangan di kotak-katik selama tak bersebrangan ekstrim dengan ajaran agama. Lagi pula para pemuka agama kita di kampung ini pastinya bukanlah orang yang bodoh apalagi sesat. Mereka orang yang pandai dalam beragama dan memiliki pegangan dan sandaran”.

Kami mengakhiri obrolan seputar ziarah kubur di hari lebaran ini, tema berganti kini ke hal-hal politis.

untuk tema yang satu ini, aku lebih banyak menunduk tak berani memandang wajahnya, teringat dua puluh tahun silam kami pernah bercita-cita untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik di desa ini, itu lah sebabnya susah payah kami kuliah di kota dengan miris.

Ternyata tekad yang dahulu itu tak semudah membalikan telapak tangan untuk merubahnya… Ah sudahlah, jika ada kesempatan aku ingin merenungkan sendiri saja makna ini.
**
Setelah sholat ied selesai ramai warga menuju perkuburan sanak keluarganya, biasanya mereka bergerombol dengan keluarganya. Tampak lah mana keluarga kecil dan mana keluarga besar. Tetap saja terlihat mana yang kaya dan mana yang miskin.
Kami akan bersalaman dengan siapapun yang bertemu, kenal atau tidak.
Perkuburan akan tampak terlihat asri dan hangat.
Mudik Persinggahan, 15 Juni 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here