- Advertisement -
32 C
Banten
Home PRESFEKTIF Menelisik Polemik Bank Banten

Menelisik Polemik Bank Banten

- Advertisement -

Sejak beberapa bulan terakhir, masyarakat Banten sering disuguhi berita-berita seputar krisis di tubuh Bank Pembangunan Daerah Banten (Bank Banten). Pemberitaan-pemeberitaan di sejumlah media tersebut beraneka ragam isinya. Ada yang berisi murni pemberitaan tanpa muatan-muatan politis. Namun ada juga pemberitaan yang kental muatan politis untuk kepentingan tertentu. Pemberitaan yang beranekaragam tersebut mungkin membuat sebagian masyarakat bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana harus bersikap.

Menurut pandangan saya sebagai orang Banten asli, diperlukan kacamata yang jernih untuk melihat permasalahan yang menimpa Bank Banten. Kita perlu melihatnya secara objektif dengan pendekatan yang konstruktif sehingga memperkecil peluang masuknya muatan politis dalam setiap pengambilan kesimpulan. Untuk itu, marilah kita kupas persoalan bank kebanggaan warga Banten ini dengan lebih objektif dan pendekatan yang konstruktif.

Sebelum melihat lebih dalam persoalan Bank Banten, pertama-tama tentu kita harus paham sejarah dan perkembangan Bank Banten sejak awal berdirinya. Bank Banten didirikan pada tahun 2016 di era kepemimpinan Rano Karno (penanaman sahamnya sejak 2013) dengan jumlah modal yang begitu terbatas. Kemudian dalam perjalanannya, bank ini selalu menunjukkan raport merah. Setiap tahun, bank ini selalu mengalami kerugian hingga pada akhirnya berstatus sebagai Bank Dalam Pengawasan Intensif (BDPI). Dengan demikian, bank ini sebenarnya sejak lama, sejak sebelum kepemimpinan Gubernur Wahidin Halim (Gubernur WH), sudah dalam keadaan kurang sehat.

Lalu, di era kepemimpinan Gubernur WH, Bank Banten tetap dipertahankan dengan harapan bahwa ke depannya bank ini dapat berangsur pulih keadaannya. Namun, untuk memulihkan sebuah bank tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, Bank Banten saat itu (dan hingga saat tulisan ini dibuat) masih di bawah atau anak perusahaannya PT Banten Global Development (BGD).

Gubernur WH sejak awal kepemimpinannya di Provinsi Banten sudah berusaha untuk menyelamatkan bank ini. Namun, dalam perjalanannya ternyata bank ini tetap tidak bisa menunjukkan performa yang diharapkan. Bank Banten terus mengalami kerugian setiap tahunnya, bahkan kemudian dinyatakan tidak sanggup membayar sejumlah kewajibannya. Keadaan semacam ini tentu perlu tindakan cepat mengingat bank ini digunakan untuk menyimpan dana Provinsi Panten yang akan berdampak pada nasib warga Banten secara umum. Tentu kita tidak bisa membayangkan, jika para ASN Banten tidak dapat menerima gajinya gara-gara permasalahan di Bank Banten. Kita pun tidak bisa membayangkan jika roda pemerintahan harus terganggu akibat macetnya dana, buntut dari permasalahan di Bank Banten ini. Apalagi, di tengah situasi global yang sedang tidak stabil seperti sekarang ini (akibat pandemi COVID-19), di mana hampir semua aspek kehidupan terkena imbasnya, tentu setiap pemimpin harus bertindak cepat dan tepat.

Gubernur WH pun akhirnya berinisiatif untuk memindahkan rekening umum kas daerah (RKUD) ke Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (Bank BJB), sebagai respon cepat dengan sejumlah pertimbangan terhadap situasi urgent tersebut. Saat itu, Gubernur WH pun sebelumnya sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak sebelum menetapkan langkah tersebut. Sebuah keputusan yang murni semata-mata untuk membela kepentingan Banten dan warga Banten.

Selain memindahkan dana kas daerah, Gubernur WH bersama sejumlah pihak lain yang terkait pun berencana menggabungkan (merger) Bank Banten ke dalam Bank BJB. Langkah ini dianggap relatif aman untuk menyelamatkan sistem keuangan di Pemprov Banten. Gubernur WH pun akhirnya menemui Gubernur Jawa Barat dan Presiden RI untuk membicarakan hal ini. Langkah merger ini pun telah mendapat dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika merger ini disepakati, maka diperlukan waktu beberapa bulan untuk menyelesaikan tahapan-tahapannya.

Seiring berjalannya waktu, Gubernur WH yang telah berupaya mengambil langkah cepat penyelamatan keuangan daerah itu tetap melakukan kajian untuk mendapatkan solusi yang paling tepat, menyesuaikan dengan segala perubahan yang terjadi secara cermat. Selain itu, dialog dengan sejumlah pihak pun terus dilakukan secara intensif, di antaranya dengan pihak DPRD Provinsi Banten.

Lalu, berdasarkan hasil pengkajian teraktual dan dialog tersebut, Gubernur WH akhirnya mengambil sebuah langkah baru : mempertahankan Bank Banten dengan penyertaan modal sebesar 1,9 triliun rupiah ke Bank Banten.  Langkah yang tertuang dalam Surat Gubernur Banten tertanggal 16 Juni 2020 ini diambil setelah melakukan kalkulasi mendalam terhadap keadaan keuangan Pemprov Banten dan setelah mengomunikasikannya dengan OJK. Langkah ini pun telah mendapatkan dukungan dari DPRD Provinsi Banten.  Dengan langkah ini, artinya Bank Banten akan diselamatkan dengan cara penyertaan modal hasil konversi dana kas daerah Provinsi Banten secara bertahap dan dengan catatan bahwa ini akan dilakukan setelah Peraturan Daerah (Perda) mengenai penyertaan modal yang baru ditetapkan.

Dengan langkah tersebut, berarti Provinsi Banten akan tetap memiliki bank daerahnya sendiri, yakni bank daerah yang membawa nama Banten. Selain itu, beredar juga kabar bahwa ke depannya tidak menutup kemungkinan bahwa Bank Banten akan berada langsung di bawah Pemprov Banten, bukan lagi di bawah BGD. Hal ini memungkinkan untuk dilakukan jika dibuat Perda baru terkait regulasi dan kepemilikan Bank Banten.

Dengan demikian, polemik Bank Banten ini secara berangsur mulai berakhir. Tentu, untuk menyelamatkan bank yang sudah terlanjur sakit cukup lama ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Dan tentu saja, untuk memulihkan mesin yang sudah lama berkarat, diperlukan keseriusan, kerja keras serta kerjasama yang optimal di antara semua pihak, tak hanya dari pihak Gubernur dan jajaran lembaga eksekutifnya.

Mudah-mudahan, dengan langkah yang penuh dengan pertimbangan matang dari Gubernur WH tersebut, kini seluruh warga Banten pun tidak lagi merasa khawatir dan bingung. Dan mudah-mudahan, semua jajaran yang ada di tubuh Bank Banten, termasuk di dalamnya jajaran direksi dan komisaris, ke depannya dapat menjalankan fungsinya lebih baik lagi sehingga bank ini dapat menjadi bank yang lebih sehat dan kuat yang siap melayani seluruh warga banten demi kemajuan Banten bersama.

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -

Ingin Dorong Kontribusi Nyata Pemuda Banten, Achmad Sauqi Siap Jadi Calon Ketua KNPI

www.bantenreview.com - Tangerang. Meski perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) DPD KNPI Banten akan di gelar tahun depan, namun sejumlah nama mulai mencuat...

Positif Covid, Jazuli Abdillah Miliki “Imun Kuat”

www.bantenreview.com. Ahmad Jazuli Abdillah, anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi Partai Demokrat dinyatakan positif Covid-19 setelah melakukan pengecekan...

Banyak Kemajuan Yang Dicapai, WH Janji Tak Akan Tinggalkan Partai Demokrat

www.bantenreview.com. Serang – Ketua Majelis Partai Daerah (MPD) Demokrat Banten, Wahidin Halim menyampaikan orasi virtual dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Partai...

Related News

Ingin Dorong Kontribusi Nyata Pemuda Banten, Achmad Sauqi Siap Jadi Calon Ketua KNPI

www.bantenreview.com - Tangerang. Meski perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) DPD KNPI Banten akan di gelar tahun depan, namun sejumlah nama mulai mencuat...

Positif Covid, Jazuli Abdillah Miliki “Imun Kuat”

www.bantenreview.com. Ahmad Jazuli Abdillah, anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi Partai Demokrat dinyatakan positif Covid-19 setelah melakukan pengecekan...

Banyak Kemajuan Yang Dicapai, WH Janji Tak Akan Tinggalkan Partai Demokrat

www.bantenreview.com. Serang – Ketua Majelis Partai Daerah (MPD) Demokrat Banten, Wahidin Halim menyampaikan orasi virtual dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Partai...

Mebanggakan! Pelajar Asal Lebak Raih Medali Emas IFST 2020 di Tunisia

www.bantenreview.com - Lebak. Alya Difa Febrianti, SMA Labschool UPI Bandung kelahiran Kampung Baros, Desa Kadu Agung Barat, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak meraih...
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here