Tadarus Ramadhan: Membedah Benang Kusut Kebudayaan di Banten

0
13

BR| SERANG RAYA. Forum Silaturahmi Seniman Banten (FSSB) menggelar dikusi kesenian dan budaya untuk mengkritisi perkembangan kesenian dan kedudayaan di Provinsi Banten. Diskusi bertajuk “APRESIASI SENI DAN STRATEGI KEBUDAYAAN BANTEN” Sabtu 26/05 di Padepokan Kopi Kaloran, Kota Serang.
Hadir sebagai nara sumber Ujang Rafiudin (Kabid Kebudayaan Dindikbud Banten), Jazuli Abdullah (Staf Ahli Gubernur) dan Suhaya (Akademisi, Ketua Jurusan Sendratasik Untirta). Meramaikan acara ini sejumlah mahasiswa dan pelaku seni Budaya di Provinsi Banten. Acara ini juga di isi dengan buka puasa bersama.
Ujang Rafiudin dalam sambutannya menyatakan “ Sudah dibentuk pansus untuk Perda Kebudayaan, dan sudah masuk Prolegda, tahun ini akan disahkan”. Dengan demikian pekerja serta seni dan budaya akan segera memiliki paying hukum yang jelas.

Sementara itu Jazuli Abdullah menekanan perlunya dialog lintas stacholder “ agar terjadi kesepahaman (bisa) dengan menggunakan saluran seperti Musrembang dan dialog informal dengan Gubernur”. Jazuli yakin seni dan budaya Banten akan lebih baik karena Pemprov sudah memiliki fasilitas/sarana/prasarana pemangunan dan pemajuan kebudayaan, karena pemerintahan memiliki Uang (APBD), SDM (ASN) Sistem/regulasi.
PROBLEMATIKA KEBUDAYAAN DI BANTEN
Nara sumber lainya, Suhaya mengkitisi minimnya jurusan sendratasik di Privinsi banten. Sendratasik sudah mengalami perubahn kini nomenklaturnya bernama “Pendidikan Seni Pertunjukan”. Salah satu persyaratan didirikannya Sendaratasik di perguruan tinggi adalah harus memiliki minimal 6 orang SDM yang kompeten di bidang seni .
Saat ini menurut Suharya hanya Unirta yang memiliki jurusan Sendratasik yang merupakan usulan/gagasan darinya beserta (alm) Nandang Aradhea, (alm) Moch Wan Anwar, dan Firman Venayaksa. Suhanya menegaskan meski Banten religi tapi jurusan kesenia harus tetap di gaungkan apalagi guru kesenian di Banten merupakan kiriman dari luar daerah.
Suhaya menambahkan kapasitas mahasiswa yang dapat ditampung oleh Sendratasik hingga saat ini adalah hanya satu kelas, yaitu 35 mahasiswa di setiap angkatannya, hal ini karena keterbatasan ruang. Mekanisme penerimaan mahasiswa baru melalui tiga mekanisme, yaitu SMPTN, UMM, dan sistem lainnya. Adapun animo masyarakat amat besar yang ingin mendaftar menjadi mahasiswa Sendratasik, sehingga perlu didirikan kampus setara Perguruan Tinggi Seni seperti ISBI Banten.
Kedepan provinsi Banten harus memliki kampus Insitus Seni dan Budaya. Kampus ISBI Banten nantinya harus mempunyai kajian khusus yang mencirikan kebantenan, misalnya untuk kajian:
1. Musik, fokus pada satu kesenian tradisional Banten, misalnya Terebang Gede,
2. Tetaer, fokus pada Ubrug,
3. Seni Rupa, fokus pada Batik, dan sebagainya.
Seniman dapat fokus pada kajian-kajian tersebut dan dapat dipekerjakan di ISBI.
Dalam kesempatan itu juga di lakukan dialog dengan peserta, kebanyakan peserta mengritisi kurang nya perhatian pemerintah akan seni dan Budaya. Wahyu Widyantono misalnya ia mempertanyakan gedung Pemerintahan masih kosong dan tidak dihiasi karya-karya rupa seniman lokal Banten. Karya seniman lokal tidak diserap bahkan cenderung di abaikan.
Menajawab pertanyaan tersebut Cak Wo sapaan akrab Ujang Rafiudin menegaskan bahwa tidak harus menunggu kegiatan atau intruski daru Gubernur karena karya dapat melalui pameran seni rupa yang diselenggarakan oleh DKB. Contoh lainaya adalah mengkoleksi hasil seni yang pengadaanya dapat dimasukkan dalam program pengadaan kelengkapan kantor dinas.
Pemerintah sudah melakukan strategi kebudayaan dengan melalui tahapan seperti pelestarian, perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan. Untuk mendukung hal ini Dinas pendidikan dan kebudayaan telah menganggarkan APBD Banten untuk bidang kebudayaan sebesar 1% dari anggaran keseluruhan di lingkungan Dindikbud Banten yang berjumlah 1,8 M. Dari 400 M anggaran dindikbud Banten, kebudayaan hanya 12,2 M, sehingga setiap seksi hanya memegang anggaran sekitar 3-4 M saja (UPT Taman Budaya, UPT Museum, dan lain-lain).
Tahun 2013 Provinsi Banten sudah memiliki 15 WBTB (Warisan Budaya Tak Benda), dan pada tahun ini merencanakan masuk dalam WBTB adalah Mace syeh, Buaya Putih (Padarincang), dan Koja (tas khas masyarakat Baduy).
Untuk mengembangkan kesenian dan kebudayaan di provinsi Banten perlu kesadaran mindset seniman akan peran Pemerintah yang dapat mengeluarkan kebijakan publik, hal ini mempengaruhi kondisi ruang-ruang publik untuk aktifitas budaya, sehingga perlu komunikasi intens dengan pemerintah.
Sementara pemerintah jiga harus terbuka dan mau berdialog dengan seniman masyarakat Kedepan di harapkan udah tidak ada lagi monopoli seniman tertentu sehingga yang tampil itu-itu saja. Pembinaan komunitas sudah dilakukan secara reguler tentu dengan kemampuan anggaran sehingga dalam setahun paling tidak dapat membina 5 sanggar.
Banten masih terus mencari bentuk, dapat memanfaatkan MGMP, sudah ada usulan membuat Pusat Kebudayaan Banten yang didalamnya terdapat PT Seni, SMK, dan sebagainya. Sudah ada fasilitasi dialog di pemerintahan secara reguler, yaitu Rapim pejabat dan gubernur. (SR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here